Infest Yogyakarta

Ketika Menulis Bukan Sebuah Ketakutan [lagi] di Desa

Cover Image for Ketika Menulis Bukan Sebuah Ketakutan [lagi] di Desa

Siapa sangka desa-desa di Kawasan Banyumas kini sudah berani bersaing dengan instansi pemerintah lain di kawasan ini soal pengelolaan informasi? Mulanya tentu banyak kesangsian bahwa desa sanggup mengolah, menulis dan menyampaikan informasi kepada khalayak luas di dunia maya. Faktanya, tak kurang dari 30 desa di kawasan banyumas sudah menjawab kesangsian itu. Desa-desa tersebut berlomba menulis, mengelola informasi dan menyampaikannya kepada masyarakat.

Kesangsian soal tulis-menulis dan pengelolaan informasi di desa kerap dikaitkan dengan keterbatasn akses teknologi. Alih-alih dianggap mampu menggunakan website atau blog, mnggunakan komputer saja desa masih dinilai masih ketinggalan. Desa diperlawankan dengan kota yang dilekatkan dengan makna kemajuan, sadar teknologi dan sudah mampu memanfaatkan tekologi informasi dan komunikasi (TIK). Kini keyakinan-keyakinan tersebut baiknya disebut sebagai mitos.

Pengalaman Desa Mandalamekar di Kecamatan Jatiwaras Tasikmalaya adalah salah satu bantahan atas kepercayaan yang sekian lama dilekatkan kepada masyarakat desa. Keterbatasan Desa Mandalamekar untuk memperoleh akses internet tidak menghalangi Yana Noviadi (48), Kepala Desa Mandalamekar, untuk menuliskan cerita tentang desa melalui website atau portal desa. Yana bahkan harus berlajar niteni tempat-tempat khusus yang bersinyal baik hanya untuk mengunggah berita di portal. Wal hasil, Yana bisa membuktikan bahwa soal infrastruktur bukan satu-satunya hal yang menentukan sebuah desa untuk bisa mengelola informasi.

Hal serupa juga juga terjadi di Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng  Banyumas.  Desa di kaki Gunung Slamet ini pun bukan desa yang berlimpah sinyal akses internet. Keterbtasan tersebut dijawab para pegiat desa dengan terus menulis dan menyajikan informasi terkini terkait desa.  Melung cukup berhasil menjadi salah satu inspirator bagi desa-desa lain di kawasan banyumas. Setelah lokakarya Gerakan Desa Membangun II di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng (18/19-02-2012), puluhan desa kini turut serta menjadi pelopor pengelolaan informasi di kawasan masing-masing. Desa-desa, seperti Dermaji dan Cirahab di Kawasan Kecamatan Lumbir;  Karangnangka dan Beji di Kecamatan Kedungbanteng; Pancasan, Aji Barang Kulon dan Aji Barang Wetang di kecamatan Aji Barang kini turut menjadi pelopor pendobrak pengelolaan informasi oleh pihak desa. Tidak hanya itu, Gerakan ini telah menjadi “virus” bagi desa-desa lain di luar Jawa Tengah, seperti Garawastu di Majalengka dan Panjalu di Ciamis.

Menuju Keterlibatan Warga dalam pengelolaan Informasi

Pengelolaan informasi desa ala Desa-desa gerakan desa membangun sedikit banyak berbeda dengan kebanyakan pengelolaan media desa lainnya. Dengan konsep keterlibatan pengelolaan informasi oleh warga, portal desa kini sudah bukan lagi dimiliki oleh sebatas perangkat desa. Warga menjadi pemilik portal tersebut, bahkan turut serta menjadi penulis. Beberapa desa, seperti Karangnangka, Melung, dan Pancasan telah mencoba membuat redaksi pengelolaan media yang melibatkan warga secara luas. Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng Banyumas bahkan melibatkan anak-anak sekolah dan remaja lainnya untuk turut mengisi portal desa ini.

Pelibatan warga bukan hanya strategi mengatasi keterbatasan konten pada portal desa. Qodirin, perangkat desa Karangnangka, adalah contohnya. Ia mampu menulis sebanyak 60 tulisan sejak periode Februari hingga Juli 2012. contoh tersebut menunjukkan produktivitas kepenulisan sekaligus konsistensi kepenulisan yang cukup kuat. Tidak berhenti di sana, Qodirin justeru mengajak warga, termasuk kelompok remaja, untuk turut serta menulis melalui portal desa. Keterlibatan ini adalah bagian dari edukasi yang dilakukan oleh pihak desa bahwa masyarakat dapat secara mandiri mengelola informasi mereka sendiri yang tidak diceritakan oleh media arus utama (niaga).

Pelibatan warga adalah strategi untuk mendorong “Mengenal Desa Sendiri.” Model pendidikan kini lebih mengarahkan seseorang mengetahui hal yang global. Orang akan lebih cepat tahu soal presiden Amerika, tapi tidak tahu nama kepala desa sendiri. Orang tahu nama sungai-sungai besar dunia, tapi lupa dengan sungai di daerah sendiri. Ironi lainnya, orang tahu produk luar negeri yang “bermerek” tapi lupa jajanan dan hasil produksi kreatif masyarakat sendiri. Pelibatan warga adalah ajakan untuk rinci atas situasi terdekatnya di tengah keglobalan yang diajarkan oleh lembaga pendidikan. Upaya ini juga bentuk pendidikan untuk mengajak masyarakat sekitar tahu dan mau bergeral menyangkut persoalan-persoalan sosial yang berkembang di sekitar lokasi mereka hidup.

Melampaui Akademisi, Kampus dan Sekolah

Diakui atau tidak, pengelolaan informasi oleh pihak desa telah menjadi bagian dari pendokumentasian pengetahuan yang disebarkan secara terbuka. sebagai contoh, upaya desa Melung untuk menuliskan proses pembuatan prosuk pertanian organik telah menjadi salah satu pendekatan unik untuk memerkaya pengetahuan pertanian.  Upaya desa Mandalamekar untuk mengarusutamakan cara dan pendekatan revolusi tata kelola hutan menjadi salah satu sumber kejutan bagi khalayak pegiat tata kelola hutan dan lingkungan.  Hal ini membantah pendapat bahwa otoritas pengelolaan pengetahuan tersebut hanya terdapat diseklah atau kampus yang diembel-embeli dengan istilah “ilmiah.” Kata Ilmiah itu hanyalah soal kekuasaan atas makna untuk mempertahankan otoritas tersebut. Faktanya, Melung dan Mandalamekar memiliki pengelaman langsung atas upaya-upaya membangun pengetahuan tersebut. Kedua desa tersebut memiliki ruang praktek sekaligus mempunyai kemampuan untuk menolah pengalaman menjadi sumber pengetahuan kelompok lain.

Lebih hebatnya, pengetahuan tersebut bersumber dari masyarakat dan berpihak langsung kepada masyarakat. Terkadang akan berbeda dengan beberapa produk pengetahuan kampus yang bertujuan tertentu, seperti untuk rekomendasi pengeluaran analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang acapkali berpihak kepada pemilik modal, perusahaan atau kelompok di luar masyarakat. Jadi tak heran kalau di balik catatan pengetahuan banyak akademisi tentang pertambangan, ternyata menjadi salah satu acuan perusahaan untuk memperoleh izin eksploitasi yang seringkali tidak berpihak kepada masyarakat. Kali ini, soal ilmiah itu bukan apa-apa. Itu hanya soal penamaan. Masyarakat punya kemampuan mengelola pengetahuannya sendiri.

Menulis kini bukan sesuatu yang ditakuti lagi oleh desa. Ia adalah alat perubahan yang digerakkan dari dusun dan desa. Perubahan yang mewakili masyarakat secara langsung.

Sungguh, desa-desa ini adalah inspirasi perubahan.


Artikel Terkait